Bupati Thariq Modanggu Memberikan Sambutan secara Virtual pada kegiatan Penilaian Lomba Desa Berkinerja Baik 2026, Tekankan Inovasi dan Kolaborasi Tekan Stunting
Bupati Thariq Modanggu Memberikan Sambutan secara Virtual pada kegiatan Penilaian Lomba Desa Berkinerja Baik 2026, Tekankan Inovasi dan Kolaborasi Tekan Stunting
Pemerintah
Kabupaten Gorontalo Utara terus memperkuat komitmen dalam percepatan
konvergensi pencegahan dan penurunan stunting. Komitmen tersebut kembali
ditegaskan Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, saat memberikan
sambutan dan penguatan dalam kegiatan wawancara secara virtual terhadap
nominasi Desa Berkinerja Baik dalam rangka konvergensi pencegahan dan penurunan
stunting tahun 2026.
Kegiatan
ini dilaksanakan di Media Center Dinas Kominfo Kabupaten Gorontalo Utara dan dihadiri
langsung oleh Wakil Bupati Gorontalo Utara, Nurjanah Hasan Yusuf, Plt. Kepala
Dinas PMD Marzuki Tome, Sekretaris PMD Susanti Mooduto dan jajaran Dinas PMD
Kabupaten Gorontalo Utara, Sekretaris Bappeda Roni Damiti, Camat Atinggola
Ismail Polapa, Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara, Kepala
Pukesmas Kecamatan Atinggola, PIAC Stunting Kabupaten Gorontalo Utara Fadil
Abdullah, PIAC Stunting Provinsi Gorontalo Hasan Mohamad, Kepala Desa Oluhuta
Hamran Ayaha beserta jajarannya, Selasa (15-09-2026)
Selanjutanya
yang hadiri secara virtual Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu, Sekretaris
Daerah Kabupaten Gorontalo Utara Suleman Lakoro dan Asisten Pemerintahan dan
Kesra Setda Kabupaten Gorontalo Utara Irwan A. Usman
Dalam
kesempatan tersebut, Bupati Thariq menegaskan bahwa proses penilaian tidak
hanya dimaknai sebagai evaluasi terhadap capaian penurunan stunting, tetapi
juga menjadi momentum untuk melihat sejauh mana desa mampu melahirkan inovasi
dalam menjawab persoalan masyarakat.
Menurutnya,
Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa (PMD) terus mendorong pembinaan dan pemantauan agar desa tidak berhenti
pada pencapaian angka, tetapi mampu membangun inovasi yang berkelanjutan.
Salah satu
inovasi yang mendapat perhatian adalah pengembangan pangan lokal berbasis
tanaman kelor serta pemberdayaan masyarakat melalui pemeliharaan ternak kambing
dan ayam yang dilakukan oleh kelompok ibu-ibu di Desa Oluhuta, Kecamatan
Atinggola.
Inovasi
tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan program daerah G2-10
(Gerakan Dua Kambing, Sepuluh Ayam) yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten
Gorontalo Utara.
“Program
G2-10 tidak semata-mata intervensi APBD, tetapi mengundang siapa pun untuk
berinvestasi, baik dalam bentuk hibah maupun investasi untuk usaha bersama,”
ujar Bupati.
Melalui
G2-10, pemerintah daerah tidak hanya memberikan dukungan, tetapi juga mendorong
masyarakat agar mampu mengembangkan sumber pangan dan ekonomi keluarga secara
mandiri.
Bupati
Thariq juga menjelaskan bahwa Pemkab Gorontalo Utara terus membangun sistem
pencegahan stunting yang terintegrasi melalui Si Cantik (Sistem Informasi
Cegah Stunting).
Sistem
tersebut dikembangkan untuk memastikan penanganan stunting dilakukan secara
holistik dan komprehensif melalui integrasi intervensi spesifik dan sensitif.
Penguatan
ini dilakukan melalui sinergi lintas OPD, termasuk Dinas PMD, Bappeda, tim ahli
serta pendamping P3MD, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa.
“Dengan
pendekatan ini, alhamdulillah kami terus berusaha di tengah keterbatasan dan
efisiensi untuk mendorong desa-desa berinovasi,” jelasnya.
Bupati
menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci sehingga Gorontalo
Utara dapat kembali dipercaya mewakili Provinsi Gorontalo dalam kegiatan
penilaian desa berkinerja baik.
Ia berharap
proses penilaian Desa Berkinerja Baik tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang
kompetisi, tetapi mampu memperkuat budaya inovasi dan kolaborasi di tingkat
desa.
Menurutnya,
capaian yang diraih Gorontalo Utara merupakan hasil kerja bersama antara
pemerintah kabupaten, kecamatan, desa dan seluruh lintas sektor.
“Semua
berkat kolaborasi yang luar biasa, baik pemerintah kecamatan, pemerintah
kabupaten maupun lintas sektor. Sehingga stunting, terutama di Desa Oluhuta,
penurunannya signifikan pada akhir tahun 2025,” pungkasnya.
Desa Oluhuta Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara mewakili Provinsi Gorontalo pada Penilaian Lomba Desa berkinerja Baik Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 20206.
Sementara
itu, dalam sesi wawancara virtual, Kepala Desa Oluhuta Kecamatan Atinggola
memaparkan berbagai program dan capaian desanya dalam mendukung konvergensi
pencegahan dan penurunan stunting.
Desa
Oluhuta memiliki luas wilayah sekitar 224 hektare dengan jumlah 266 kepala
keluarga dan 655 jiwa yang tersebar di tiga dusun, yakni Dusun Idamang,
Dusun Bukit Harapan dan Dusun Gusuo.
Dari jumlah
tersebut, terdapat 68 kepala keluarga miskin yang masuk dalam desil 1
sampai desil 3.
Dalam
proses perumusan pembangunan desa, pemerintah Desa Oluhuta menerapkan tiga
tahapan utama, yakni pra-perumusan, pelaksanaan perumusan dan
pasca-perumusan.
Pada tahap
pra-perumusan dilakukan pendataan dan evaluasi data, analisis serta penilaian
situasi dan penyusunan draft usulan.
Selanjutnya
pada tahap pelaksanaan perumusan dilakukan pembukaan dan pemaparan situasi,
diskusi komunitas dan pembahasan usulan, penetapan program prioritas serta
penandatanganan komitmen bersama.
Sementara
tahap pasca-perumusan dilanjutkan dengan sinkronisasi ke dalam perencanaan
pembangunan serta pelaksanaan secara kolaboratif.
Dalam
paparannya, Kepala Desa Oluhuta juga menjelaskan konsolidasi data sasaran
stunting yang meliputi 7 ibu hamil, 9 bayi, 50 balita dan 86 remaja,
dengan total sasaran sebanyak 152 orang.
Sasaran
tersebut mendapatkan akses terhadap berbagai layanan yang menjadi bagian dari
konvergensi pencegahan stunting.
Layanan
tersebut meliputi kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi dan balita, sanitasi dan
air bersih, perlindungan sosial dan edukasi, serta layanan kesehatan bagi
remaja.
Hasilnya
menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berdasarkan data yang dipaparkan,
persentase anak stunting di Desa Oluhuta pada tahun 2025 mengalami penurunan
dari bulan Februari 2025 sekitar 9 orang anak stunting 17,31 persen hingga akhir Desember 2025 tinggal 1 orang anak stunting 2,31 persen
Capaian
tersebut menjadi salah satu indikator penting keberhasilan kolaborasi antara
pemerintah desa, kader, masyarakat, pemerintah kecamatan dan pemerintah
kabupaten dalam melakukan intervensi secara terpadu. (Kominfo-Gorut)
