Kemarau Ekstrem Ancam GAM dan G-30 PB, BPBD Turun Langsung Pastikan Tanaman Tetap Tumbuh
Kemarau Ekstrem Ancam GAM dan G-30 PB, BPBD Turun Langsung Pastikan Tanaman Tetap Tumbuh
Musim
kemarau yang telah memasuki bulan keempat mulai memberikan dampak terhadap
berbagai sektor pembangunan di Kabupaten Gorontalo Utara. Tidak hanya
menyangkut kebutuhan air bersih masyarakat, kondisi tersebut juga menjadi
tantangan serius bagi keberlanjutan program strategis Pemerintah Kabupaten
Gorontalo Utara di sektor pertanian dan lingkungan.
Salah satu
program yang turut menghadapi tantangan tersebut adalah Gerakan Agro
Mopomulo (GAM), yang menjadi bagian dari agenda besar G-30 PB (Gorontalo
Utara 2030 Produsen Buah) dengan target penanaman satu juta pohon buah
yang tersebar di sejumlah desa dan kecamatan di wilayah Gorontalo Utara.
Program
tersebut dirancang bukan semata untuk meningkatkan produksi buah-buahan. Lebih
jauh, GAM diarahkan untuk membangun sistem pertanian yang tangguh, memperbaiki
dan menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat mitigasi bencana, sekaligus
mendorong kemandirian ekonomi keluarga petani.
Karena itu,
kondisi kemarau ekstrem tahun ini menjadi tantangan bersama agar tanaman yang
telah ditanam melalui gerakan tersebut dapat tetap tumbuh dan berkembang.
Di tengah
kesibukannya sebagai komando kendali penanganan bencana kekeringan dan
kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten
Gorontalo Utara Usman Lagarusu turut mengambil bagian dalam upaya
sederhana namun memiliki makna strategis tersebut.
Usman
Lagarusu mengerahkan mobil tangki air bersih milik BPBD Provinsi Gorontalo
untuk melakukan penyiraman tanaman yang berada di pelataran Masjid Jabal Iqro,
Kompleks Blokplan Perkantoran Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara.
Usai penyiraman tanaman, mobil tangki tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengisi tangki air guna memenuhi kebutuhan wudhu di Kompleks Masjid Jabal Iqro, sebagai persiapan menghadapi pelaksanaan Salat Jumat yang biasanya dihadiri banyak jemaah.
Langkah
tersebut menjadi gambaran bahwa penanganan dampak kemarau tidak hanya
berorientasi pada respons terhadap masyarakat terdampak, tetapi juga
membutuhkan perhatian terhadap lingkungan dan keberlanjutan program pembangunan
daerah.
“Ini
memang langkah sederhana, tetapi merupakan bagian dari dukungan teknis kita
agar program-program strategis pemerintah daerah tetap berjalan dan tanaman
yang sudah ditanam dapat dipertahankan di tengah kondisi kemarau,” ujar Usman Lagarusu.
Menurutnya,
kemarau yang berlangsung cukup panjang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan harus
membangun semangat kolaborasi dan gotong royong dalam menghadapi dampak
kekeringan.
Semangat
tersebut sejalan dengan tujuan besar Gorontalo Utara 2030 Produsen Buah,
di mana penanaman satu juta pohon buah tidak hanya diproyeksikan menghasilkan
komoditas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang
dalam membangun ketahanan pangan, ekonomi keluarga, serta lingkungan yang lebih
lestari.
Di sisi
lain, keberadaan tanaman buah juga memiliki nilai strategis dalam konteks
mitigasi bencana. Vegetasi yang terjaga dapat berkontribusi terhadap konservasi
tanah dan air serta memperkuat daya dukung lingkungan dalam menghadapi berbagai
ancaman bencana.
“Kita
membutuhkan upaya kolaborasi dan kerja gotong royong. Kemarau ekstrem seperti
sekarang tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Apa yang kita lakukan hari ini
mudah-mudahan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga tanaman,
lingkungan dan kemaslahatan masyarakat,” kata Usman.
Ia berharap
semangat kebersamaan tersebut terus diperkuat, sehingga tantangan kemarau tidak
menghambat agenda besar Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara dalam mewujudkan Gorontalo
Utara sebagai sentra komoditas buah-buahan pada 2030.
Dari air
yang disalurkan hari ini, ada harapan agar pohon-pohon yang ditanam tetap
tumbuh, lingkungan tetap terjaga, dan cita-cita Gorontalo Utara menjadi
produsen buah dapat terus dirawat bersama.(Kominfo-Gorut)
