Kemarau Ekstrem Bikin Desa Surplus Air Ikut Krisis, BPBD Gorut Salurkan 11 Ribu Liter ke Desa Wubudu Kecamatan Sumalata Timur
Kemarau Ekstrem Bikin Desa Surplus Air Ikut Krisis, BPBD Gorut Salurkan 11 Ribu Liter ke Desa Wubudu Kecamatan Sumalata Timur
Kemarau
ekstrem memasuki bulan keempat dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Dampaknya kian terasa di sejumlah
wilayah Kabupaten Gorontalo Utara. Bahkan, Desa Wubudu, Kecamatan Sumalata
Timur, yang selama ini dikenal sebagai wilayah surplus air pegunungan, kini
ikut mengalami tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih.
Kondisi
tersebut mendapat respons cepat Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara melalui Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gorontalo
Utara bersama TAGANA dan Pemerintah Desa Wubudu melakukan pendistribusian air
bersih kepada masyarakat terdampak pada Kamis (10-09-2026).
Dalam
laporan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gorontalo Utara, Usman Lagarusu disebutkan
bahwa Wubudu selama ini merupakan wilayah yang memiliki sumber air pegunungan
yang relatif melimpah. Air bahkan dikenal mengalir sepanjang siang dan malam.
Namun,
situasi tersebut berubah akibat kemarau ekstrem yang telah berlangsung selama
empat bulan secara berturut-turut tanpa hujan.
“Desa
Wubudu selama ini merupakan wilayah surplus air bersih pegunungan. Air mengalir
sepanjang hari, siang dan malam. Namun kini juga sangat terdampak musim kemarau
ekstrem yang memasuki bulan keempat dan secara berturut-turut belum juga turun
hujan,” demikian
laporan Kalak BPBD Gorontalo Utara.
Distribusi
air bersih menyasar tiga dusun di Desa Wubudu yang mengalami dampak kekeringan.
Dusun
Hulapa Barat
tercatat sebanyak 110 KK atau 354 jiwa, Dusun Hulapa sebanyak 78
KK atau 248 jiwa, dan Dusun Tengah sebanyak 118 KK atau 349 jiwa.
Secara
keseluruhan, terdapat 358 KK atau 951 jiwa yang menjadi sasaran
pelayanan air bersih.
BPBD
Gorontalo Utara menyalurkan 11.000 liter air bersih untuk memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat di tiga dusun tersebut.
Angka
tersebut sekaligus menggambarkan semakin seriusnya tekanan kemarau terhadap
masyarakat, bahkan di wilayah yang sebelumnya dikenal memiliki sumber air
pegunungan.
Laporan
lapangan dari TRC BPBD dan TAGANA Gorontalo Utara menyebutkan penyaluran air
bersih di Desa Wubudu masih berlangsung sampai pada malam hari.
Untuk
pelayanan berikutnya, sejumlah lokasi telah menjadi sasaran distribusi, yakni Desa
Wubudu, Deme Dua, Dulukapa dan Bubalango.
BPBD juga
mengatur mobilisasi armada secara bergantian. Mobil BPBD yang digunakan untuk
pelayanan air bersih di wilayah tersebut dijadwalkan kembali bertugas di
Kecamatan Anggrek pada hari berikutnya.
Kondisi ini
membuat dukungan armada dan peralatan menjadi kebutuhan penting agar pelayanan
air bersih dapat menjangkau lebih banyak masyarakat terdampak.
Untuk
memperkuat operasi distribusi air bersih, kebutuhan lapangan yang diajukan
meliputi satu unit mobil pick-up untuk pengangkutan air dan logistik, dua
unit profil/wadah air berkapasitas masing-masing 1.100 liter, serta satu
unit mesin Alkon untuk pengambilan dan penyaluran air.
Selain itu, dukungan biaya operasional berupa bahan bakar, konsumsi dan kebutuhan tenaga pelaksana juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pelayanan.
Kebutuhan
tersebut menjadi semakin mendesak mengingat penyaluran air bersih tidak hanya
dilakukan di satu lokasi. BPBD harus bergerak dari satu wilayah terdampak ke
wilayah lainnya dengan keterbatasan armada yang tersedia.
Di tengah
meluasnya dampak kemarau, kondisi ketersediaan air di Gorontalo Utara tidak
sepenuhnya seragam.
Berdasarkan
laporan Sekretaris BPBD Gorontalo Utara Jemi Igirisa, wilayah yang saat ini
relatif tidak terdampak dan siklus air bersihnya masih lestari serta terjaga
berada di Kecamatan Sumalata, Tolinggula, Monano dan Atinggola.
Namun,
kasus Desa Wubudu menjadi alarm penting. Wilayah yang selama ini dikenal
memiliki sumber air pegunungan pun kini mulai membutuhkan intervensi distribusi
air bersih.
Kemarau
empat bulan tanpa hujan telah mengubah kondisi di lapangan. Apa yang
sebelumnya mengalir sepanjang siang dan malam, kini harus didatangkan
menggunakan armada untuk memastikan ratusan keluarga tetap mendapatkan air
bersih.
Pemerintah
Kabupaten Gorontalo Utara melalui BPBD terus mendorong kolaborasi dan dukungan
berbagai pihak agar penanganan dampak kekeringan dapat berjalan maksimal.
Bagi
warga terdampak, air bukan lagi sekadar kebutuhan—tetapi kebutuhan mendesak
yang menentukan keberlangsungan aktivitas sehari-hari di tengah kemarau
ekstrem.(Kominfo-Gorut)
