info@gorutkab.go.id +6285240046579

Kemarau Ekstrem Bikin Desa Surplus Air Ikut Krisis, BPBD Gorut Salurkan 11 Ribu Liter ke Desa Wubudu Kecamatan Sumalata Timur

  • Novita Antula
  • Disukai 0
  • Dibaca 156 Kali
Kemarau Ekstrem Bikin Desa Surplus Air Ikut Krisis, BPBD Gorut Salurkan 11 Ribu Liter ke Desa Wubudu Kecamatan Sumalata Timur

Kemarau ekstrem memasuki bulan keempat dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Dampaknya kian terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Gorontalo Utara. Bahkan, Desa Wubudu, Kecamatan Sumalata Timur, yang selama ini dikenal sebagai wilayah surplus air pegunungan, kini ikut mengalami tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih.

Kondisi tersebut mendapat respons cepat Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gorontalo Utara bersama TAGANA dan Pemerintah Desa Wubudu melakukan pendistribusian air bersih kepada masyarakat terdampak pada Kamis (10-09-2026).

Dalam laporan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gorontalo Utara, Usman Lagarusu disebutkan bahwa Wubudu selama ini merupakan wilayah yang memiliki sumber air pegunungan yang relatif melimpah. Air bahkan dikenal mengalir sepanjang siang dan malam.

Namun, situasi tersebut berubah akibat kemarau ekstrem yang telah berlangsung selama empat bulan secara berturut-turut tanpa hujan.

“Desa Wubudu selama ini merupakan wilayah surplus air bersih pegunungan. Air mengalir sepanjang hari, siang dan malam. Namun kini juga sangat terdampak musim kemarau ekstrem yang memasuki bulan keempat dan secara berturut-turut belum juga turun hujan,” demikian laporan Kalak BPBD Gorontalo Utara.

Distribusi air bersih menyasar tiga dusun di Desa Wubudu yang mengalami dampak kekeringan.

Dusun Hulapa Barat tercatat sebanyak 110 KK atau 354 jiwa, Dusun Hulapa sebanyak 78 KK atau 248 jiwa, dan Dusun Tengah sebanyak 118 KK atau 349 jiwa.

Secara keseluruhan, terdapat 358 KK atau 951 jiwa yang menjadi sasaran pelayanan air bersih.

BPBD Gorontalo Utara menyalurkan 11.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tiga dusun tersebut.

Angka tersebut sekaligus menggambarkan semakin seriusnya tekanan kemarau terhadap masyarakat, bahkan di wilayah yang sebelumnya dikenal memiliki sumber air pegunungan.

Laporan lapangan dari TRC BPBD dan TAGANA Gorontalo Utara menyebutkan penyaluran air bersih di Desa Wubudu masih berlangsung sampai pada malam hari.

Untuk pelayanan berikutnya, sejumlah lokasi telah menjadi sasaran distribusi, yakni Desa Wubudu, Deme Dua, Dulukapa dan Bubalango.

BPBD juga mengatur mobilisasi armada secara bergantian. Mobil BPBD yang digunakan untuk pelayanan air bersih di wilayah tersebut dijadwalkan kembali bertugas di Kecamatan Anggrek pada hari berikutnya.

Kondisi ini membuat dukungan armada dan peralatan menjadi kebutuhan penting agar pelayanan air bersih dapat menjangkau lebih banyak masyarakat terdampak.

Untuk memperkuat operasi distribusi air bersih, kebutuhan lapangan yang diajukan meliputi satu unit mobil pick-up untuk pengangkutan air dan logistik, dua unit profil/wadah air berkapasitas masing-masing 1.100 liter, serta satu unit mesin Alkon untuk pengambilan dan penyaluran air.

Selain itu, dukungan biaya operasional berupa bahan bakar, konsumsi dan kebutuhan tenaga pelaksana juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pelayanan.


Kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak mengingat penyaluran air bersih tidak hanya dilakukan di satu lokasi. BPBD harus bergerak dari satu wilayah terdampak ke wilayah lainnya dengan keterbatasan armada yang tersedia.

Di tengah meluasnya dampak kemarau, kondisi ketersediaan air di Gorontalo Utara tidak sepenuhnya seragam.

Berdasarkan laporan Sekretaris BPBD Gorontalo Utara Jemi Igirisa, wilayah yang saat ini relatif tidak terdampak dan siklus air bersihnya masih lestari serta terjaga berada di Kecamatan Sumalata, Tolinggula, Monano dan Atinggola.

Namun, kasus Desa Wubudu menjadi alarm penting. Wilayah yang selama ini dikenal memiliki sumber air pegunungan pun kini mulai membutuhkan intervensi distribusi air bersih.

Kemarau empat bulan tanpa hujan telah mengubah kondisi di lapangan. Apa yang sebelumnya mengalir sepanjang siang dan malam, kini harus didatangkan menggunakan armada untuk memastikan ratusan keluarga tetap mendapatkan air bersih.

Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara melalui BPBD terus mendorong kolaborasi dan dukungan berbagai pihak agar penanganan dampak kekeringan dapat berjalan maksimal.

Bagi warga terdampak, air bukan lagi sekadar kebutuhan—tetapi kebutuhan mendesak yang menentukan keberlangsungan aktivitas sehari-hari di tengah kemarau ekstrem.(Kominfo-Gorut)