WABUP NURJANAH PIMPIN RAPAT IMPLEMENTASI G-30 PB, OPD DIMINTA PERKUAT PROGRAM DAN MONITORING TANAMAN BUAH
WABUP NURJANAH PIMPIN RAPAT IMPLEMENTASI G-30 PB, OPD DIMINTA PERKUAT PROGRAM DAN MONITORING TANAMAN BUAH
Wakil
Bupati Gorontalo Utara, Nurjanah Hasan Yusuf, memimpin rapat program
implementasi Gerakan Agro Mopomulo (GAM) Gorontalo Utara 2030 Produsen Buah
(G-30 PB), yang berlangsung di Aula Tinepo Kantor Bupati Gorontalo Utara, Kamis
(13-08-2026).
Rapat
tersebut dihadiri unsur Forkopimda, Staf Ahli Bupati, Asisten Perekonomian dan
Pembangunan Setda Gorontalo Utara, pimpinan OPD, para camat se-Kabupaten
Gorontalo Utara, Tim Kerja Bupati serta Tim Gerakan Agro Mopomulo (GAM) dari
Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo Utara.
Rapat
membahas tahapan implementasi program G-30 PB sebagai salah satu langkah
strategis Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara untuk mewujudkan daerah sebagai
produsen buah unggulan pada tahun 2030.
Dalam
pemaparan Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, Asri Menu
menyampaikan bahwa implementasi G-30 PB telah melalui kajian terhadap kondisi
wilayah, meliputi karakteristik lahan, jenis tanah, iklim, topografi serta
potensi komoditas buah di masing-masing wilayah. Pendekatan tersebut dilakukan
agar pengembangan tanaman buah dapat disesuaikan dengan potensi dan kondisi
setiap desa maupun kecamatan.
Sejumlah
komoditas yang menjadi bagian dari pengembangan G-30 PB antara lain alpukat,
rambutan, mangga, pisang, pepaya dan berbagai jenis buah potensial lainnya.
Wakil
Bupati Nurjanah Hasan Yusuf menegaskan bahwa keberhasilan G-30 PB tidak cukup
hanya dengan melakukan penanaman, tetapi harus diikuti dengan pemeliharaan,
pendataan, monitoring dan evaluasi secara berkala.
“OPD harus
memiliki program kerja dalam implementasi G-30 PB. Tugas OPD bukan hanya
menanam, tetapi juga wajib memantau dan melaporkan perkembangan tanaman yang
sudah ditanam, berapa yang hidup dan berapa yang tidak,” tegas Nurjanah.
Menurutnya,
monitoring tersebut penting untuk mengetahui perkembangan program sekaligus
menjadi dasar dalam menentukan target produksi pada tahun-tahun berikutnya.
“Kalau
terpantau, kita bisa memprediksi tahun depan berapa yang akan berbuah.
Pengalaman menunjukkan, ada tanaman yang ditanam dan dalam waktu sekitar tiga
tahun sudah mulai berbuah. Karena itu jangan hanya menanam, kemudian kita tidak
tahu hasilnya,” ujarnya.
Nurjanah
juga meminta seluruh OPD mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya. Setiap
OPD diharapkan menyusun membuat tim kerja,
program kerja yang jelas, termasuk rencana penanaman, pemeliharaan,
monitoring serta pelaporan.
Ia menilai
sinergi lintas sektor menjadi kunci agar program G-30 PB tidak berhenti pada
kegiatan seremonial penanaman, tetapi benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi
bagi masyarakat.
“Harapan kita semua OPD memiliki program kerja terlebih dahulu. Setelah program kerja dimasukkan dan berjalan, akan ada langkah berikutnya, termasuk evaluasi secara berkala,” jelasnya.
Dalam rapat
tersebut juga dibahas pentingnya penguatan sosialisasi kepada masyarakat hingga
tingkat desa. Para camat diminta terus mendorong partisipasi masyarakat agar
gerakan menanam buah dapat berkembang secara luas.
Selain itu,
mekanisme pengajuan bantuan bibit juga diarahkan agar dilakukan secara tertib
melalui sistem yang telah disiapkan. Setiap permohonan bibit nantinya harus
didukung dengan informasi mengenai lokasi penanaman serta perkembangan tanaman
sebagai bagian dari proses evaluasi dan pertanggungjawaban program.
Wakil
Bupati juga mengingatkan tantangan musim kemarau yang saat ini terjadi di
Gorontalo Utara. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius terhadap
pemeliharaan tanaman yang telah ditanam, terutama dalam memastikan ketersediaan
air.
“Kurang
lebih sudah ada sekitar 6.000 tanaman yang tertanam. Kita belum tahu sampai
saat ini berapa yang masih hidup, terutama menghadapi musim kemarau. Karena itu
mari kita sama-sama melakukan pemantauan dan pemeliharaan,” katanya.
Ia mengajak
seluruh jajaran pemerintah daerah untuk tidak menyerah pada kondisi alam,
melainkan terus berupaya memanfaatkan teknologi dan menyesuaikan metode
budidaya dengan kondisi lahan.
“Jenis
tanah dan kondisi alam memang menjadi pertimbangan, tetapi dengan kemajuan
teknologi banyak hal yang bisa direkayasa. Kita tidak boleh menyerah kepada
alam. Yang penting kita menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi lahan dan
terus melakukan inovasi,” tutur Nurjanah.
Sebagai
tindak lanjut rapat, masing-masing OPD akan menyampaikan program kerja
implementasi G-30 PB untuk kemudian dikompilasi oleh tim. Program tersebut
selanjutnya akan menjadi dasar pelaksanaan, monitoring dan evaluasi secara
berkala.
Wakil
Bupati berharap seluruh perangkat daerah, camat, pemerintah desa, masyarakat
serta seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil bagian dalam gerakan
tersebut.
“G-30 PB
adalah gerakan bersama. Kita ingin apa yang sudah dicanangkan benar-benar
memberikan hasil. Jangan hanya banyak yang ditanam, tetapi kita harus tahu
berapa yang tumbuh, berapa yang dipelihara dan berapa yang nantinya
menghasilkan buah,” pungkasnya.
Melalui
penguatan program kerja, monitoring dan evaluasi tersebut, Pemerintah Kabupaten
Gorontalo Utara optimistis Gerakan Agro Mopomulo G-30 PB dapat terus berkembang
dan menjadi fondasi bagi terwujudnya Gorontalo Utara sebagai salah satu daerah
produsen buah unggulan pada tahun 2030.(Kominfo-Gorut)
