Bupati Thariq Modanggu Buka Festival Tunas Bahasa Ibu, Dorong Bahasa Gorontalo Jadi Identitas dan Kebanggaan Generasi Muda
Bupati Thariq Modanggu Buka Festival Tunas Bahasa Ibu, Dorong Bahasa Gorontalo Jadi Identitas dan Kebanggaan Generasi Muda
Bupati
Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, secara resmi membuka kegiatan Festival Tunas
Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2026, yang mengusung
tema “Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa”, di Aula SMP
Negeri 1 Kwandang, Rabu (21-10-2026).
Festival
ini menjadi salah satu upaya strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi
muda terhadap bahasa daerah sekaligus memperkuat pelestarian bahasa Gorontalo
di tengah perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi.
Kegiatan
tersebut dihadiri Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Yusuf
Abdullah Hasan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Gorontalo
Utara Irwan A. Usman, Kepala Dinas Pendidikan Gorontalo Utara Abdul Wahab Paudi
beserta jajaran kepala bidang, perwakilan Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo,
para kepala sekolah, guru pendamping, serta peserta didik dari berbagai satuan Pendidikan
se Kabupaten Gorontalo Utara.
Dalam
laporan panitia yang disampaikan Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan
Gorontalo Utara, Yunan Polapa, dijelaskan bahwa Festival Tunas Bahasa Ibu
merupakan bagian dari upaya revitalisasi bahasa daerah yang didukung Kantor
Bahasa Provinsi Gorontalo, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Program ini
bertujuan menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah sekaligus
meningkatkan jumlah serta kualitas penutur bahasa daerah, khususnya di kalangan
generasi muda.
Menurut
panitia, berkurangnya minat generasi muda dalam mempelajari dan menggunakan
bahasa daerah menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
Karena itu, diperlukan ruang apresiasi yang mendorong anak-anak untuk terus
mempelajari, menggunakan, dan mengembangkan bahasa daerah sebagai warisan
budaya.
Festival
Tunas Bahasa Ibu tingkat Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2026 diikuti 106
peserta dari jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP)
yang berasal dari 11 kecamatan. Para peserta merupakan hasil seleksi tingkat
kecamatan, dengan cabang lomba yang meliputi pidato berbahasa Gorontalo,
menulis cerpen berbahasa Gorontalo, mendongeng, serta berbagai bentuk ekspresi
sastra daerah lainnya.
Dalam
sambutannya, Bupati Thariq Modanggu menyampaikan apresiasi kepada Dinas
Pendidikan, Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, para kepala sekolah, guru
pendamping, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyelenggarakan
festival tersebut.
Bupati
menegaskan bahwa bahasa daerah tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang
ketinggalan zaman atau dianggap kurang bergengsi dibandingkan bahasa lain.
Sebaliknya, bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas, kebudayaan,
dan jati diri masyarakat Gorontalo.
“Bahasa
Gorontalo harus kita hidupkan kembali. Penggunaannya dalam aktivitas rumah
tangga, sekolah, dan pemerintahan sangat penting agar bahasa daerah tetap
diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Bupati Thariq.
Sebagai
langkah konkret memperkuat penggunaan bahasa, Bupati mengungkapkan bahwa
Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara tengah menyiapkan instruksi bupati
mengenai penggunaan bahasa daerah dan bahasa asing pada setiap hari Kamis, yang
direncanakan mulai diterapkan pada pekan berikutnya.
Melalui
kebijakan tersebut, penggunaan bahasa Gorontalo, bahasa Inggris, dan bahasa
Arab dan bahasa Atinggola diharapkan semakin berkembang dalam komunikasi di
lingkungan pemerintahan, sekolah, kecamatan, hingga desa.
Bupati juga menekankan bahwa pelestarian bahasa daerah harus dilakukan melalui pendekatan yang terencana, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan program pembangunan daerah. Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai budaya, pengetahuan, sejarah, serta kearifan lokal masyarakat.
Bupati
Thariq turut menyampaikan rencana Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara untuk
memperkuat aspek kebudayaan dalam struktur dan program pembangunan daerah.
Mulai Januari 2027, pemerintah daerah merencanakan penguatan bidang kebudayaan
pada sektor pendidikan agar upaya pelestarian bahasa dan budaya dapat berjalan
lebih terarah.
Kepada para
peserta, Thariq berpesan agar festival ini tidak hanya dipandang sebagai ajang
perlombaan untuk memperoleh juara, tetapi juga sebagai kesempatan membangun
kepercayaan diri, mengembangkan kemampuan, serta menumbuhkan kebanggaan
terhadap bahasa daerah.
Ia juga
meminta panitia dan tim juri melaksanakan penilaian secara objektif,
profesional, dan berdasarkan kriteria yang jelas. Menurutnya, penilaian yang
adil merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas kompetisi sekaligus
memberikan penghargaan yang layak kepada para peserta.
Bupati
selanjutnya mendorong agar peserta yang meraih prestasi dapat diberi ruang
untuk menjadi duta bahasa dan budaya daerah. Para pemenang diharapkan tidak
berhenti setelah festival berakhir, melainkan terus dilibatkan dalam berbagai
kegiatan pendidikan, kebudayaan, dan promosi bahasa daerah, termasuk melalui
media sosial.
Bupati
Thariq juga mengajak para orang tua dan guru untuk mengambil peran aktif dalam
membiasakan penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Dukungan orang tua dinilai penting agar kecintaan anak terhadap bahasa dan
budaya tidak hanya tumbuh ketika mengikuti perlombaan, tetapi menjadi bagian
dari kehidupan sehari-hari.
Sementara
itu, pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu dijadwalkan berlangsung selama dua
hari, Rabu hingga Kamis, 21–22 Oktober 2026. Kegiatan ini diharapkan menjadi
wadah pembinaan bagi para tunas muda sekaligus memperkuat sinergi pemerintah
daerah dan Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo dalam menjaga keberlanjutan bahasa
daerah.
Menutup
sambutannya, Bupati Thariq Modanggu secara resmi menyatakan Festival Tunas
Bahasa Ibu tingkat Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2026 dibuka. Ia berharap
kegiatan tersebut melahirkan generasi muda yang mampu berprestasi, mencintai
bahasa daerah, dan menjadi penerus pelestarian budaya Gorontalo.
Melalui
festival ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara menegaskan komitmennya bahwa
pelestarian bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau sekolah,
melainkan gerakan bersama yang harus dimulai dari keluarga, diperkuat melalui
pendidikan, dan diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.(Kominfo-Gorut)
